Kamis, 30 Desember 2010

TAFSIR SURAT AL IKHLAS


Tafsir aliklas

Tafsir Surat al-Ikhlas (sumber: Tafsir Fi Zhilalil-Qurâ an) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.

Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-nya segala sesuatu.

Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan dia Surah yang kecil ini nilainya sebanding dengan sepertiga Al-Qur an, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat yang shahih.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa telah diceritakan kepadanya oleh Ismail, dari Malik, dari Abdur Rahman bin Abdullah bin Abdur Rahman bin Abu Sha shaah, dari ayahnya, dari abu Saâd, bahwa seorang laki-laki lain membaca âœQulhuwallahu ahadâ berulang-ulang.

Pada keesokan harinya ia datang kepada Nabi saw. Melaporkan hal itu, seakan-akan ia mempersoalkannya, kemudian Nabi bersabda, Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Qur an. Tafsir Surat al-Ikhlas (sumber: Tafsir Fi Zhilalil-Quran) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.

 Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan dia Surah yang kecil ini nilainya sebanding dengan sepertiga Al-Qur an, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat yang shahih. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa telah diceritakan kepadanya oleh Ismail, dari Malik, dari Abdur Rahman bin Abdullah bin Abdur Rahman bin Abu Shaâ shaah, dari ayahnya, dari abu Saâd, bahwa seorang laki-laki lain membaca Qulhuwallahu ahad berulang-ulang. Pada keesokan harinya ia datang kepada Nabi saw. Melaporkan hal itu, seakan-akan ia mempersoalkannya, kemudian Nabi bersabda, Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya surah ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran. Ini bukanlah suatu hal yang aneh. Karena keesaan yang Rasulullah perintahkan untuk memproklamirkannya,

Qulhuwallahu ahad, Dialah Allah Yang Maha Esa, adalah aqidah bagi hati, penafsiran bagi wujud semesta, dan manhaj bagi kehidupan. Karena itu, surah ini mengandung garis-garis pokok yang sangat luas mengenai hakikat Islam yang besar.

Qulhuwallahu ahad adalah lafal yang lebih halus dan lebih lembut daripada kata Ahad karena ia menyandarkan kepada makna Wahid bahwa tidak ada sesuatupun selain Dia bersama Dia dan bahwa tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya. Ini adalah ahadiyyatul-wujud, keesaan wujud.

Karena itu, tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya dan tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya. Segala maujud yang lain hanyalah berkembang atau muncul dari wujud yang hakiki itu dan berkembang dari wujud Dzatiyah itu.

 Oleh karena itu, ia adalah keesaan pelaku. Tidak ada selain Dia sebagai pelaku yang hakiki terhadap sesuatu, di alam wujud ini. Inilah aqidah di dalam hati sekaligus penafsiran terhadapwujud semesta.

Apabila penafsiran ini telah mantap dan tashawwur ini telah jelas, bersihlah hati dari semua penutup dan kotoran. Yakni, bersih dari ketergantungan kepada selain Zat yang Esa dan Tunggal dengan hakikat wujud dan hakikat pelaku.

Bersih dari ketergantungan kepada sesuatu selain wujud Tuhan jika ia tidak lepas sama sekali dari perasaan tentang adanya sesuatu. Karena tidak ada hakikat bagi suatu wujud selain wujud Ilahi itu; dan tidak ada hakikat bagi suatu tindakan kecuali tindakan kehendak Ilahi.
 Maka, untuk apa hati bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakikatnya bagi wujud dan tindakannya? Ketika hati sudah bersih dari perasaan terhadap hakikat selain hakikat ini, maka pada saat itu bebaslah segala ikatan, lepas dari segala belenggu, bebas dari ambisi yang merupakan pokok segala ikatan yang banyak, dan bebas dari ketakutan yang juga menjadi pokok ikatan-ikatan yang banyak. Karena, untuk apa ia berambisi sedangkan ia tidak kehilangan sesuatu pun bila sudah bertemu Allah? Dan untuk apa ia takut, sedangkan tidak ada wujud begi si pelaku kecuali kepunyaan Allah.

Apabila sudah mantap tashawwur yang tidak melihat di alam wujud selain hakikat Allah, tashawwur ini akan disertai dengan melihat hakikat itu pada semua wujud lain yang bersumber dari hakikat ini. Ini adalah tingkatan di mana hati melihat kekuasaan Allah berada pada segala sesuatu yang dilihatnya. Di balik itu terdapat tingkatan di mana ia tidak melihat suatu hakikat di sana kecuali hakikat Allah. Hal ini akan diiringi dengan meniadakan efektivitas sebab-sebab.

Kemudian mengembalikan segala sesuatu, segala kejadian, dan semua gerak kepada sebab pertama yang menjadi sumber semuanya dan memberi bekas kepada semuanya. Inilah hakikat yang mendapat perhatian yang besar dari Al-Quran untuk dimantapkannya di dalam tashawwur imani.

 Karena itu, Al-Quran menjauhkan sebab-sebab lahir dan menghubungkan semua urusan secara langsung kepada kehendak Allah. Dan (yang sebenarnya) bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Al-Anfaal: 17) Tiada pertolongan kecuali dari sisi Allah.

 (Ali Imran: 126) “Kami tidak dapat menghendaki (menempuh jalan ini) kecuali apabila dikehendaki Allah. (At-Takwiir: 29) Dengan menjauhkan semua sebab lahiriah dan mengembalikan segala urusan kepada kehendak Allah, maka akan tercurahlah ketenteraman di dalam hati.

Tahulah ia arah dan tujuan satu-satunya untuk mendapatkan apa yang diinginkan di sisi-Nya dan untuk menjauhkan apa yang ditakuti. Juga untuk menenangkan dan memantapkan hati di dalam menghadapi dampak-dampak, pengaruh-pengaruh, dan sebab-sebab lahiriah yang tidak ada hakikat dan wujudnya.

 Inilah tanjakan-tanjakan jalan yang hendak dicoba oleh para ahli tasawuf, tetapi justru menyeret mereka ke tempat yang jauh. Hal ini disebabkan Islam menghendaki agar manusia menempuh jalan menuju hakikat ini, dengan tetap menempuh kehidupan nyata dengan kekhususannya, menempuh kehidupan layaknya manusia, dan mengelola bumi dengan segenapunsurnya.

Tetapi tetap dengan menyadari dan merasakan di samping semua itu bahwa tidak ada hekikat kecuali wujud Allah, tidak ada efektivitas kecuali efektivitas Allah. Islam tidak menghendaki suatu jalan hidup kecuali jalan ini.

 Dari sini lahirlah manhaj kehidupan yang sempurna, yang ditegakkan di atas penafsiran itu dengan segala pengaruh yang ditimbulkannya di dalam jiwa yang berupa tashawwur, perasaan, dan arahan-arahan. Manhaj kehidupan ini meliputi manhaj-manhaj sebagai berikut.

1. Manhaj untuk beribadah kepada Allah saja, yang tidak ada hakikat bagi suatu wujud kecuali wujud-Nya, tidak ada hakikat bagi keefektivan sesuatu kecuali keefektivan-Nya, dan tidak ada pengaruh bagi suatu kehendak kecuali kehendak-Nya.

 2. Manhaj untuk mengarah dan menuju kepada Allah saja di dalam berharap dan takut, kesenangan dan kesulitan, kebahagiaan dan penderitaan. Kalau tidak begitu, apa gunanya menghadap kepada suatu maujud yang tidak hakiki dan kepada selain yang bertindak efektiv di alam wujud ini?

3. Manhaj untuk menerima sesuatu dari Allah saja. Yaitu, menerima aqidah, tashawwur pandangan hidup, tata nilai, norma-norma, syariat, undang-undang, peraturan, adab, dan tradisi. Maka, penerimaan semua ini tidak bisa terjadi melainkan dari Wujud Yang Satu dan Hakikat Yang Satu dalam kenyataan dan dalam hati.

 4. Manhaj untuk bergerak dan beramal karena Allah semat. Yaitu, untuk mendekat kepada hakikat yang sebenarnya, dan untuk melepaskan diri dari tabir-tabir yang menghalangi dan noda-noda yang menyesatkan, baik di dalam lubuk jiwa sendiri maupun pada segala sesuatu di sekitarnya. Di antara tabir-tabir penghalang itu ialah diri-diri sendiri dan keterikatannya pada keinginan dan rasa takutnya terhadap sesuatu di alam wujud ini.

5. Di samping itu adalah sebagai manhaj yang menghubungkan antara hati manusia dengan segala yang maujud dengan hubungan cinta, kasih saying, lemah lembut, dan saling merespons. Maka, keterbebasan dari ikatan-ikatannya itu bukan berarti saling membenci, saling menjauh, dan saling menghindar. Karena semuanya keluar dari tangan Allah, dan semuanya mendapatkan pancaran dari sinar hakikat ini. Karena itu, semuanya dicintai karena semuanya adalah hadiah dari Yang Maha Tercinta.

Manhaj kehidupan yang demikian adalah manhaj yang tinggi. Dalam manhaj ini, bumi terasa kecil, kehidupan dunia adalah singkat, kesenangan kehidupan dunia tidak berarti, dan keterbatasan dari halangan-halangan dan tirai-tirai ini adalah menjadi tujuan dan cita-cita.

Akan tetapi, kebebasan menurut islam bukan berarti menjauhkan diri dari mengabaikan semua itu, bukan pula membenci dan menjauhinya. Namun, yang dimaksud adalah terus melakukan usaha-usaha yang istiqamah dan perjuangan yang terus-menerus untuk meningkatkan kemanusiaan secara keseluruhan dan membabaskan seluruh kehidupan manusia.

 Dengan demikian, kehidupan manusia menurut Islam adalah khilafah dan kepemimpinan dengan segala tugasnya. Juga disertai dengan kebebasan dan kemerdekaan dengan segala penopangnya,

sebagaimana sudah kami terangkan di muka. Membebaskan diri dari kehidupan dunia dengan jalan bertapa itu mudah, tetapi Islam tidak menghendaki yang demikian. Karena khilafah di bumi dan kepemimpinan terhadap manusia merupakan bagian dari manhaj Islam untuk pembebasan.

Ini merupakan jalan yang sulit, tetapi inilah yang dapat mengaktualisasikan kemanusiaan manusia. Artinya, mewujudkan keberhasilan peniupan ruh yang tinggi di dalam eksistensinya, yakni kebebasan ruh untuk berhubungan dengan sumber Ilahinya dan mengaktualisasikan hakikatnya yang tinggi, untuk bekerja di lapangannya yang telah dipilihnya oleh Penciptanya Yang Maha Bijaksana. Karena itu semua, maka dakwah Islam yang pertama terbatas pada penetapan aqidah tauhid dengan tashawwur-nya ke dalam hati.

Karena tauhid dalam bentuknya yang seperti ini adalah aqidah bagi hati, penafsiran bagi alam wujud, dan manhaj bagi kehidupan. Ia bukan hanya ucapan pada lisan atau gambaran dalam hati, tetapi ia adalah urusan totalitas, agama secara total. Penjelasan-penjelasan dan perincian-perincian sesudah itu tidak lebih dari sebagai buah alamiah untuk memantapkan hakikat itu dalam bentuknya di dalam hati.

Penyimpangan-penyimpangan yang menimpa kaum Ahli Kitab sebelumnya dan yang merusak aqidah, pola pikir, dan kehidupan mereka, sebab utamanya adalah karena telah buramnya gambar tauhid yang murni. Keburaman ini kemudian diikuti dengan penyimpangan-penyimpangan tersebut.

Nah, keistimewaan bentuk tauhid dalam aqidah Islam ialah kedalamannya untuk menjadi fondasi kehidupan secara total. Juga ditegakkan kehidupan di atasnya sebagai fondasinya dan sebagai kaidah (landasan) bagi manhaj amali’ aturan kerja/aktivitas yang nyata di dalam kehidupan, yang tampak bekas-bekasnya baik di dalam syariat maupun di dalam kepercayaan.

Adapun bekas pertama yang tampak ialah bahwa hanya syariat Allah saja yang mengatur kehidupan. Apabila dampaknya tidak demikian, aqidah tauhidnya berarti tidak tegak. Karena, apabila aqidah tauhidnya tegak, tentu akan diiringi dengan bekas-bekasnya seperti di dalam setiap sendi kehidupan.

Makna bahwa Allah Maha Esa bahwa Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Akan tetapi, Al-Qur’an menyebutkan perincian-perincian ini adalah untuk menambah kemantapan dan kejelasan. Allahush-shamad. Makna ash-shamad menurut bahasa berarti tuan yang dituju yang suatu perkara tidak terlaksana kecuali dengan ijinnya.

Allah SWT adalah Tuhan (Majikan) yang tidak ada tuan (majikan) yang sebenarnya selain Dia. Allah adalah maha Esa di dalam uluhiyah-Nya dan segala sesuatu adalah hamba bagi-Nya. Hanya Dialah satu-satunya yang dituju untuk memenuhi segala hajat makhluk.

 Hanya Dia satu-satunya yang dapat mengabulkan kebutuhan orang-orang yang berkebutuhan. Dialah yang memutuskan segala sesuatu dengan ijin-Nya, dan tidak ada seorangpun yang dapat memutuskan bersama Dia. Sifat ini aktualisasi dari keberadaan-Nya Yang Mahatunggal dan Maha Esa. Lamyalid walamyuulad. “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.

Maka, hakikat Allah itu tetap, abadi, dan azali. Ia tidak berubah-ubah menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Sifatnya adalah sempurna dan mutlak dalam semua keadaan.

Kelahiran adalah suatu kemunculan dan pengembangan, wujud tambahan setelah kekurangan atau tiada. Hal yang demikian ini mustahil bagi Allah. Kelahiran itu juga sebelumnya memerlukan perkawinan dengan yang sejenis dengannya.

Hal ini juga mustahil bagi Allah. Oleh karena itu, sifat Ahad mengandung penafian terhadap orang tua dan anak, yakni Allah itu tidak berorangtua dan tidak beranak.

Walamyakullahu kufuwan ahad. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Yakni, tidak ada yang sebanding dan setara dengan Dia, baik dalam hakikat wujudnya maupun dalam hakikat efektivitasnya, dan tidak juga dalam sifat dzatiyah manapun. Ia juga merupakan aktualisasi bahwa Dia adalah Ahad, Maha Esa.

Akan tetapi, ini merupakan penegasan dan penjabaran. Sifat ini meniadakan aqidah tsunaiyah ‘dualisme yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan kebaikan, sedang bagi kejahatan terdapat tuhan yang lain lagi sebagai lawan Allah, dengan tindakan-tindakannya menentang perbuatan-perbuatan yang baik dan menyebarkan kerusakan di muka bumi.

Adapun aqidah tsunaiyah yang paling populer adalah ialah aqidah kaum Persia mengenai Tuhan Cahaya dan Tuhan Kegelapan. Aqidah ini juga popular di kawasan selatan Jazirah Arab karena dikuasai Persia.

 Surat ini untuk menetapkan dan memantapkan aqidah tauhid Islam, sebagaimana surah Al-Kaafiruun meniadakan bentuk keserupaan dan pertemuaan manapun antara aqidah tauhid dan aqidah syirik.

Masing-masing surah ini memecahkan persoalan hakikat tauhid dari satu segi. Rasulullah saw biasa membuka hari barunya dengan melakukan shalat fajar (qabliah subuh) dengan membaca kedua surah ini (Al-Kaafiruun dan Al-Ikhlas). Pembukaan hari ini dengan bacaan tersebut memiliki makna dan tujuan tertentu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar